Modul 3





MODUL 3

HUKUM OHM, HUKUM KIRCHOFF, VOLTAGE & CURRENT DEVIDER, MESH, NODAL, THEVENIN




1. Pendahuluan[Kembali]

Hukum Ohm merupakan salah satu prinsip paling fundamental dalam elektronika. Diformulasikan oleh Georg Simon Ohm pada tahun 1827, hukum ini menyatakan bahwa arus listrik yang mengalir melalui suatu konduktor sebanding dengan beda potensial (tegangan) di antara kedua ujung konduktor tersebut, dengan konstanta proporsional yang dikenal sebagai resistansi. Secara matematis, hukum ini dinyatakan dengan persamaan:


di mana:

  • adalah tegangan (volt),
  •  adalah arus listrik (ampere),
  •  adalah resistansi (ohm).

Hukum Kirchoff terdiri dari dua prinsip utama, yaitu Hukum Kirchoff Arus (Kirchhoff’s Current Law atau KCL) dan Hukum Kirchoff Tegangan (Kirchhoff’s Voltage Law atau KVL).

  • KCL menyatakan bahwa jumlah arus yang masuk ke suatu simpul (node) dalam rangkaian harus sama dengan jumlah arus yang keluar dari simpul tersebut. Artinya, tidak ada arus yang “hilang” di simpul.
  • KVL menyatakan bahwa jumlah aljabar tegangan dalam suatu loop tertutup dalam rangkaian adalah nol. Hal ini berarti total penurunan tegangan harus sama dengan total peningkatan tegangan di dalam loop tersebut.

Voltage Divider dan Current Divider merupakan teknik analisis dasar yang digunakan untuk menghitung pembagian tegangan dan arus dalam rangkaian:

  • Teknik Voltage Divider digunakan pada rangkaian seri untuk menentukan pembagian tegangan di antara resistor-resistor yang terhubung secara seri.
  • Teknik Current Divider digunakan pada rangkaian paralel untuk menentukan pembagian arus di antara resistor-resistor yang terhubung secara paralel.

Analisis Mesh adalah metode yang digunakan untuk menentukan arus dalam suatu rangkaian dengan memanfaatkan loop-loop tertutup yang disebut mesh. Mesh merupakan loop terkecil dalam rangkaian yang tidak mengandung loop lain di dalamnya. Dengan menerapkan Hukum Ohm dan KVL, arus dalam setiap mesh dapat dihitung secara sistematis.

Analisis Nodal adalah pendekatan analisis rangkaian yang berfokus pada tegangan di titik-titik pertemuan komponen listrik (node). Dengan menerapkan Hukum Kirchoff Arus (KCL) dan Hukum Ohm, tegangan pada setiap node dapat ditentukan, dan dari tegangan tersebut, arus yang mengalir melalui tiap komponen dapat dihitung.

Teorema Thevenin adalah suatu metode yang berguna untuk menyederhanakan rangkaian listrik yang kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana, yaitu sebuah sumber tegangan ideal yang disebut tegangan Thevenin () yang dihubungkan secara seri dengan sebuah resistor yang disebut resistansi Thevenin (). Dengan menggunakan teorema ini, analisis rangkaian menjadi lebih mudah, terutama ketika ingin mengetahui respons rangkaian terhadap beban tertentu.

2. Tujuan[Kembali]

1. Dapat memahami prinsip Hukum Ohm.

2. Dapat memahami prinsip Hukum Kirchoff.

3. Dapat memahami cara kerja voltage dan current divider.

4. Dapat membuktikan perhitungan arus dengan menggunakan Teorema Mesh.

5. Dapat membuktikan perhitungan tegangan dengan menggunakan Analisis Nodal.

6. Dapat menentukan tegangan ekivalen Thevenin dan resistansi Thevenin dari rangkaian DC dengan satu sumber.                                                     

3. Alat dan Bahan[Kembali]

A. Alat

1. Instrument

Multimeter

2. Module

3. Base Station

 

4. Jumper

Jumper

B. Bahan

Resistor

Potensiometer

4. Dasar Teori[Kembali]

A. Resistor

Resistor merupakan salah satu komponen dasar yang sangat penting dan hampir selalu ditemukan dalam setiap rangkaian elektronik. Dapat dikatakan bahwa hampir tidak ada sirkuit elektronik yang tidak melibatkan resistor di dalamnya. Namun, masih banyak orang—termasuk yang bekerja di industri perakitan elektronik maupun pengguna perangkat elektronik—yang belum memahami cara membaca kode warna atau kode angka yang tercetak pada badan resistor.

Sebagaimana telah disebutkan, nilai resistansi pada resistor jenis axial biasanya ditunjukkan melalui gelang-gelang warna yang terdapat di tubuh resistor. Umumnya, resistor memiliki empat gelang warna, meskipun beberapa jenis resistor dapat memiliki lima gelang untuk presisi yang lebih tinggi.

Gelang warna emas dan perak biasanya terletak sedikit terpisah dari gelang warna lainnya dan berfungsi sebagai penanda gelang terakhir. Gelang terakhir ini menunjukkan nilai toleransi dari resistor tersebut, yaitu sejauh mana nilai resistansi sebenarnya dapat berbeda dari nilai nominalnya.

Tabel dibawah ini adalah warna-warna yang terdapat di Tubuh Resistor:

Tabel Kode Warna Resistor

Perhitungan untuk Resistor dengan 4 Gelang warna:

Cara menghitung nilai resistor 4 gelang:

1.     Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-1 (pertama)

2.     Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-2

3.     Masukkan Jumlah nol dari kode warna Gelang ke-3 atau pangkatkan angka tersebut dengan 10 (10n)

4.     Merupakan Toleransi dari nilai Resistor tersebut

 

Contoh:

Gelang ke 1: Coklat = 1

Gelang ke 2: Hitam = 0

Gelang ke 3: Hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105

Gelang ke 4: Perak = Toleransi 10%

Maka nilai Resistor tersebut adalah 10 * 105 = 1.000.000 Ohm atau 1 MOhm dengan toleransi 10%.

 

Perhitungan untuk Resistor dengan 5 Gelang warna:

 

 

 

Cara Menghitung Nilai Resistor 5 Gelang Warna:

1.     Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-1 (pertama)

2.     Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-2

3.     Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-3

4.     Masukkan Jumlah nol dari kode warna Gelang ke-4 atau pangkatkan angka tersebut dengan 10 (10n)

5.     Merupakan Toleransi dari nilai Resistor tersebut

 

Contoh:

Gelang ke 1: Coklat = 1

Gelang ke 2: Hitam = 0

Gelang ke 3: Hijau = 5

Gelang ke 4: Hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105

Gelang ke 5: Perak = Toleransi 10%

Maka nilai Resistor tersebut adalah 105 * 105 = 10.500.000 Ohm atau 10,5 MOhm dengan toleransi 10%.

 

Contoh-contoh perhitungan lainnya:

Merah, Merah, Merah, Emas  22 * 10² = 2.200 Ohm atau 2,2 Kilo Ohm dengan 5% toleransi

Kuning, Ungu, Orange, Perak  47 * 10³ = 47.000 Ohm atau 47 Kilo Ohm dengan 10% toleransi

 

Cara menghitung Toleransi:

2.200 Ohm dengan Toleransi 5% =

2200 – 5% = 2.090

2200 + 5% = 2.310

ini artinya nilai Resistor tersebut akan berkisar antara 2.090 Ohm ~ 2.310 Ohm

 

 

B. Potensiometer

Potensiometer merupakan jenis resistor variabel yang nilai resistansinya dapat diubah dengan memutar tuas atau porosnya. Komponen ini banyak digunakan dalam perangkat elektronik untuk mengatur besaran arus atau tegangan, salah satu contohnya adalah sebagai pengatur volume pada perangkat audio.

Potensiometer memiliki tiga terminal, yaitu terminal A, terminal B, dan wiper (terminal geser). Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut:

  • Ketika terminal A dan wiper dihubungkan, nilai resistansi akan meningkat seiring dengan pemutaran tuas ke arah kanan.
  • Ketika terminal B dan wiper dihubungkan, nilai resistansi akan meningkat apabila tuas diputar ke arah kiri.
  • Ketika terminal A dan terminal B dihubungkan, potensiometer menunjukkan nilai resistansi maksimum, yang merupakan nilai resistansi total. Nilai ini bersifat tetap dan tidak berubah, terlepas dari posisi wiper.

Dengan prinsip kerja tersebut, potensiometer memungkinkan pengendalian yang fleksibel terhadap besaran listrik dalam suatu rangkaian, menjadikannya sangat berguna dalam berbagai aplikasi elektronik.

 

C. Hukum Ohm

Hukum Ohm merupakan hukum dasar dalam ilmu kelistrikan yang menjelaskan hubungan antara tegangan (beda potensial), arus listrik, dan hambatan dalam suatu rangkaian listrik.

Secara sederhana, hukum ini menyatakan bahwa arus listrik yang mengalir melalui suatu penghantar akan sebanding dengan tegangan yang diterapkan pada penghantar tersebut, dan berbanding terbalik dengan hambatan yang dimilikinya. Arus listrik dapat mengalir karena adanya perbedaan tegangan di antara dua titik dalam suatu konduktor.

Bunyi Hukum Ohm:

"Besarnya arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar sebanding dengan tegangan yang diberikan, selama suhu penghantar tetap."
Georg Simon Ohm

Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa perbandingan antara tegangan (V) dan arus listrik (I) merupakan hambatan (R) dalam rangkaian, yang secara matematis dirumuskan sebagai:

  
di mana:

  • V adalah tegangan (volt),
  • I adalah arus listrik (ampere),
  • R adalah hambatan (ohm).

Hukum Ohm sangat penting dalam analisis dan perancangan rangkaian listrik karena memberikan dasar untuk menghitung nilai-nilai komponen dan karakteristik sistem kelistrikan.

 

D. Hukum Kirchhoff

Hukum Kirchhoff ditemukan oleh Gustav Robert Kirchhoff, seorang fisikawan asal Jerman. Ia merumuskan dua prinsip dasar dalam kelistrikan yang sangat penting dalam analisis rangkaian listrik, yaitu Hukum Kirchhoff I dan Hukum Kirchhoff II.

1. Hukum Kirchhoff I (Kirchhoff’s Current Law / KCL)

Hukum Kirchhoff I didasarkan pada prinsip kekekalan muatan listrik. Hukum ini menyatakan bahwa jumlah arus listrik yang masuk ke suatu titik percabangan dalam rangkaian akan sama dengan jumlah arus yang keluar dari titik tersebut. Dengan kata lain, tidak ada arus yang "hilang" pada simpul (node) dalam rangkaian.

Bunyi Hukum Kirchhoff I:

"Jumlah kuat arus listrik yang masuk ke suatu titik cabang sama dengan jumlah kuat arus listrik yang keluar dari titik tersebut."

Secara matematis, hukum ini dapat dinyatakan sebagai:


Contoh sederhana:
Jika arus I₁ masuk ke simpul, dan arus I₂ serta I₃ keluar dari simpul, maka:


 

2. Hukum Kirchhoff II (Kirchhoff’s Voltage Law / KVL)

Hukum Kirchhoff II berlaku pada rangkaian tertutup, dan berfungsi untuk menganalisis distribusi tegangan atau beda potensial dalam loop rangkaian. Hukum ini menyatakan bahwa jumlah aljabar dari semua tegangan dalam satu loop tertutup adalah nol.

Bunyi Hukum Kirchhoff II:

"Jumlah aljabar beda potensial (tegangan) dalam suatu rangkaian tertutup adalah nol."

Versi lain dari pernyataan ini menyebutkan bahwa jumlah Gaya Gerak Listrik (GGL/ε) dikurangi jumlah penurunan tegangan akibat hambatan (IR) dalam satu loop akan sama dengan nol.

Secara matematis, dapat dituliskan sebagai:


 

Hukum ini didasarkan pada prinsip kekekalan energi, di mana energi yang diberikan oleh sumber tegangan akan sepenuhnya digunakan oleh elemen-elemen dalam rangkaian.

 

E. Voltage & Current Divider

1. Rangkaian Pembagi Tegangan (Voltage Divider)

Rangkaian pembagi tegangan adalah suatu konfigurasi rangkaian listrik yang dirancang untuk membagi tegangan masukan (input) menjadi tegangan-tegangan yang lebih kecil pada beberapa titik dalam rangkaian. Rangkaian ini umumnya terdiri dari dua atau lebih resistor yang dihubungkan secara seri, dan prinsip kerjanya didasarkan pada Hukum Ohm serta Hukum Kirchhoff Tegangan (KVL).

Prinsip Kerja:

  • Resistansi Total (R_total)
    Pada rangkaian seri, resistansi total merupakan jumlah seluruh resistansi:
  • Hukum Ohm
    Digunakan untuk menghitung arus total dalam rangkaian:
  • Pembagian Tegangan (Voltage Division Rule)
    Berdasarkan hukum KVL, tegangan total akan terbagi di antara resistor-resistor sesuai dengan besar resistansinya.
    Tegangan pada resistor tertentu (
    ) dapat dihitung dengan rumus:
    di mana:
    •  = Tegangan masukan
    •  = Nilai resistor pada titik pengambilan tegangan
    •  = Jumlah seluruh resistansi dalam rangkaian

Dengan memilih nilai resistor yang sesuai, tegangan keluaran dapat dikendalikan agar menjadi proporsional terhadap tegangan input.


2. Rangkaian Pembagi Arus (Current Divider)

Rangkaian pembagi arus digunakan dalam konfigurasi paralel, di mana arus total yang masuk ke titik percabangan akan terbagi ke dalam beberapa cabang sesuai dengan besar hambatan di masing-masing cabang. Prinsip ini didasarkan pada Hukum Kirchhoff Arus (KCL), yang menyatakan bahwa jumlah arus yang masuk ke suatu simpul sama dengan jumlah arus yang keluar dari simpul tersebut.

Rumus Pembagi Arus:

Arus pada cabang ke-n () dalam suatu rangkaian paralel dapat dihitung dengan:

Namun karena resistansi yang lebih besar akan menerima arus yang lebih kecil, rumus sering dituliskan dalam bentuk:
atau untuk dua resistor paralel:

di mana:

  •  = Arus total yang masuk
  •  = Resistansi pada cabang ke-n
  •  = Hambatan ekuivalen total dari seluruh cabang paralel

Pembagi arus sangat berguna dalam rangkaian elektronik yang memerlukan distribusi arus yang presisi ke beberapa komponen.

 

 

F. Teorema Mesh (Mesh Current Method)

Gambar 4.3. Rangkaian Arus Mesh

 

Metode arus mesh adalah suatu teknik analisis rangkaian listrik yang digunakan untuk menentukan arus pada setiap elemen dalam rangkaian, khususnya pada konfigurasi rangkaian planar. Teknik ini menggunakan prinsip Hukum Tegangan Kirchhoff (Kirchhoff’s Voltage Law/KVL) yang diterapkan pada loop-loop tertutup (mesh) dalam rangkaian.

Prinsip Dasar:

Langkah-langkah dalam menerapkan metode arus mesh adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi Mesh
    Tentukan semua loop tertutup (mesh) dalam rangkaian. Mesh adalah loop yang tidak mengandung loop lebih kecil di dalamnya.
  2. Tentukan Arah Arus Mesh
    Tentukan arah arus mesh untuk masing-masing loop, biasanya searah jarum jam (dapat juga berlawanan, asalkan konsisten). Arah ini bersifat asumsi awal; jika hasil akhir bernilai negatif, berarti arah sebenarnya berlawanan.
  3. Terapkan Hukum Tegangan Kirchhoff (KVL)
    Tuliskan persamaan KVL untuk setiap mesh, yaitu jumlah aljabar tegangan dalam satu loop harus sama dengan nol. Tegangan pada resistor dihitung menggunakan Hukum Ohm (
    ) berdasarkan arus mesh yang mengalir melaluinya.
  4. Bentuk Sistem Persamaan Simultan
    Dari setiap loop akan dihasilkan satu persamaan. Dengan menyusun semua persamaan, akan terbentuk sistem persamaan simultan yang dapat diselesaikan untuk mendapatkan nilai arus pada masing-masing mesh.

Contoh Umum Persamaan Mesh:

Jika dua mesh berbagi satu resistor, tegangan pada resistor tersebut harus mencerminkan perbedaan arus antara dua mesh.

Misalnya, untuk dua mesh dengan arus ​ dan  ​ ​ yang berbagi resistor , maka tegangan pada resistor tersebut adalah:

Metode arus mesh sangat efisien dalam menganalisis rangkaian dengan jumlah simpul yang lebih banyak daripada loop, dan merupakan salah satu teknik standar dalam teori rangkaian.

 

G. Teorema Thevenin

Teorema Thevenin adalah metode analisis rangkaian yang digunakan untuk menyederhanakan suatu rangkaian listrik kompleks menjadi rangkaian ekuivalen yang lebih sederhana. Rangkaian yang kompleks tersebut dapat direpresentasikan sebagai satu sumber tegangan ekuivalen (V<sub>th</sub>) yang terhubung secara seri dengan satu hambatan ekuivalen (R<sub>th</sub>) terhadap beban yang dianalisis.

Langkah-langkah Menentukan Thevenin Equivalent:

  1. Menentukan Tegangan Thevenin ()
    • Tegangan Thevenin adalah tegangan antara dua terminal keluaran rangkaian ketika beban dilepas (open circuit).
    • Pengukuran dapat dilakukan dengan meletakkan multimeter pada kedua titik terminal beban yang telah dilepas.
  2. Menentukan Resistansi Thevenin ()
    • Untuk menghitung resistansi Thevenin, semua sumber tegangan independen dalam rangkaian diubah menjadi hubung singkat (short circuit), dan sumber arus independen diubah menjadi sirkuit terbuka (open circuit).
    • Hambatan Thevenin adalah resistansi total yang terlihat dari terminal keluaran setelah beban dilepas.

Dengan Teorema Thevenin, analisis dan perancangan rangkaian menjadi lebih sederhana karena kita dapat menggantikan seluruh bagian rangkaian yang kompleks hanya dengan satu sumber tegangan dan satu resistor ekuivalen.


H. Analisis Nodal (Metode Tegangan Node)

Analisis nodal adalah metode sistematis dalam teori rangkaian listrik yang digunakan untuk menghitung tegangan pada setiap node dalam suatu rangkaian relatif terhadap node referensi (ground). Metode ini didasarkan pada penerapan Hukum Arus Kirchhoff (Kirchhoff’s Current Law/KCL), yang menyatakan bahwa jumlah arus yang masuk ke suatu simpul sama dengan jumlah arus yang keluar dari simpul tersebut.

Prinsip Dasar Analisis Nodal:

  • Metode ini fokus pada tegangan sebagai variabel utama (berbeda dengan metode mesh yang menggunakan arus).
  • Setiap node (kecuali node referensi) akan menghasilkan satu persamaan tegangan node.
  • Jumlah persamaan yang diperoleh adalah sebanyak n - 1, dengan n adalah jumlah total node (termasuk ground).

Langkah-langkah Analisis Nodal:

  1. Pilih node referensi (ground) — node ini dijadikan titik acuan tegangan nol.
  2. Tentukan tegangan node pada setiap node lainnya.
  3. Terapkan Hukum Arus Kirchhoff (KCL) di setiap node selain node referensi, dan gunakan hukum Ohm untuk mengekspresikan arus dalam bentuk tegangan.
  4. Susun persamaan simultan dan selesaikan untuk mendapatkan tegangan pada masing-masing node.

Karakteristik Analisis Nodal:

  • Berdasarkan hukum arus Kirchhoff (KCL).
  • Jumlah persamaan = jumlah node – 1 (tidak termasuk node referensi).
  • Persamaan linier dapat diselesaikan menggunakan metode aljabar atau matriks.
  • Setelah tegangan node diketahui, arus dalam setiap elemen dapat dihitung dengan mudah menggunakan hukum Ohm.




Komentar

Postingan Populer