MODUL 4 PRAK.ELEKTRONIKA
MODUL 4
Judul Aplikasi
1. Pendahuluan[Kembali]
Dalam
kehidupan modern, kebutuhan akan sistem otomatis semakin meningkat seiring
berkembangnya teknologi elektronika yang mampu mendukung aktivitas manusia
secara lebih praktis, efisien, dan aman. Salah satu kebutuhan tersebut terdapat
pada penggunaan garasi rumah maupun bangunan lain yang memerlukan mekanisme
buka–tutup pintu. Pada sebagian besar rumah, pintu garasi masih dioperasikan
secara manual, yaitu dengan menarik atau mendorong pintu secara langsung. Cara
ini seringkali tidak efisien, terutama ketika pengguna sedang membawa
kendaraan, sedang terburu-buru, atau ketika kondisi cuaca tidak mendukung
seperti hujan dan malam hari.
Penggunaan
sistem manual juga kerap menimbulkan berbagai permasalahan, seperti pintu
garasi yang tidak tertutup rapat karena lupa menutupnya, potensi risiko
keamanan akibat garasi yang dibiarkan terbuka, serta ketidaknyamanan pengguna
yang harus berulang kali turun dari kendaraan hanya untuk membuka atau menutup
pintu garasi. Pada beberapa kasus, penggunaan saklar manual untuk mengaktifkan
motor penggerak juga dapat menimbulkan masalah berupa kesalahan pengoperasian
atau beban berlebih apabila saklar tidak dimatikan tepat waktu.
Untuk
mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan suatu sistem otomatis yang mampu
mengoperasikan pintu garasi secara mandiri berdasarkan kondisi lingkungan.
Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan sistem garasi
otomatis berbasis sensor cahaya (LDR) dan sensor infrared (IR) yang
dirancang untuk mendeteksi keberadaan kendaraan maupun tingkat pencahayaan
tertentu. Sensor infrared digunakan untuk mendeteksi objek atau kendaraan yang
mendekat melalui pantulan sinar inframerah, sedangkan sensor LDR digunakan
untuk membaca intensitas cahaya yang dapat dijadikan pemicu otomatisasi pada
kondisi tertentu, misalnya ketika keadaan menjadi gelap atau terang.
Pada
sistem ini, sensor menghasilkan sinyal analog yang kemudian diproses melalui
rangkaian pembanding menggunakan komparator LM393 atau operational
amplifier TL082. Ketika nilai tegangan dari sensor melewati ambang batas
tertentu, op-amp memberikan sinyal kontrol ke transistor sebagai penguat arus.
Selanjutnya, transistor akan mengaktifkan relay yang berfungsi menghubungkan
daya ke motor DC sehingga pintu garasi dapat bergerak membuka maupun menutup.
Untuk menjaga keselamatan dan mencegah kerusakan mekanik, digunakan
pula limit switch sebagai pembatas gerakan motor agar berhenti
otomatis ketika pintu mencapai batas maksimal buka atau tutup.
Sistem
garasi otomatis ini dirancang tanpa mikrokontroler, melainkan hanya
menggunakan rangkaian komponen analog seperti op-amp, transistor, relay,
sensor, dan motor DC. Pendekatan ini membuat sistem lebih hemat biaya, mudah
dirakit, mudah dipahami, serta tidak bergantung pada pemrograman digital.
Meskipun sederhana, sistem analog ini tetap mampu memberikan respon yang cepat,
akurat, dan reliabel dalam mengontrol gerakan pintu garasi sesuai kondisi yang
terdeteksi oleh sensor.
Melalui
pengembangan sistem garasi otomatis berbasis sensor infrared dan LDR ini,
diharapkan dapat tercipta solusi yang praktis dan efisien untuk meningkatkan
kenyamanan serta keamanan pengguna. Selain itu, proyek ini juga menjadi wadah
pembelajaran bagi mahasiswa dalam memahami cara kerja komponen elektronika,
pengolahan sinyal analog, dan integrasi rangkaian otomatisasi sederhana yang
dapat diaplikasikan pada berbagai kebutuhan rumah tangga maupun industri.
2. Tujuan[Kembali]
- Merancang sistem garasi
otomatis yang dapat membuka dan menutup pintu secara mandiri menggunakan
sensor infrared dan sensor LDR.
- Mengembangkan rangkaian
pengendali berbasis op-amp, transistor, dan relay untuk mengatur kerja
motor DC secara otomatis sesuai kondisi yang terdeteksi sensor.
- Menghasilkan sistem otomatisasi garasi yang efisien, aman, dan praktis sehingga dapat meningkatkan kenyamanan pengguna serta mendukung penerapan teknologi smart home.
3. Alat dan Bahan [Kembali]
A. Alat
1. Breadboard
2. Kotak Plastik
3. Adapter 12V
4. Jumper
B.
Bahan
1.
Sensor Infrared (IR)
Sensor infrared digunakan untuk mendeteksi keberadaan objek melalui pantulan
sinar inframerah. Sensor ini menjadi pemicu utama untuk membuka atau menutup
pintu garasi secara otomatis.
2.
Sensor LDR (Light Dependent Resistor)
Sensor LDR mendeteksi perubahan intensitas cahaya. Resistansinya menurun saat
cahaya terang dan meningkat saat gelap sehingga dapat dijadikan pemicu
otomatisasi.
3. LED
Putih dan Hijau
LED berfungsi sebagai indikator visual, misalnya menandakan sistem aktif,
mendeteksi input sensor, atau status pintu garasi.
4.
Kabel Jumper (Male to Male dan Female to Male)
Digunakan sebagai konektor tambahan untuk menghubungkan modul sensor, op-amp,
relay, dan motor DC dalam satu rangkaian.
5.
Konverter DC to DC
Konverter ini digunakan untuk menurunkan atau menstabilkan tegangan keluaran
agar sesuai kebutuhan sistem, misalnya dari 12V ke 5V.
6.
Transistor D882
Transistor ini digunakan sebagai saklar elektronik untuk mengontrol arus besar
ke motor atau relay menggunakan arus kecil dari op-amp.
7.
Operational Amplifier TL082
Op-amp TL082 berfungsi sebagai pembanding tegangan (komparator) untuk memproses
sinyal dari sensor dan menentukan kondisi buka/tutup garasi.
8.
Relay 5V
Relay digunakan sebagai saklar otomatis berdaya besar untuk menghubungkan motor
DC dengan sumber tegangan sesuai sinyal dari transistor.
9.
Limit Switch
Limit switch digunakan untuk menentukan batas gerakan pintu garasi, mencegah
motor bergerak berlebihan, dan mematikan sistem pada posisi buka/tutup
maksimum.
10.
Resistor 220 Ohm
Resistor digunakan sebagai pembatas arus untuk LED atau bagian rangkaian
lainnya agar tidak menerima arus berlebih.
11.
Motor Gearbox
Motor Gearbox berfungsi sebagai aktuator utama untuk membuka dan menutup pintu
garasi dengan mengubah energi listrik menjadi energi gerak.
4. Dasar Teori [Kembali]
A.
Sensor LDR dengan Konfigurasi Op-Amp Non-Inverting
1.
Prinsip Kerja Sensor LDR
Sensor LDR
(Light Dependent Resistor) bekerja berdasarkan perubahan resistansi akibat
cahaya. Resistansinya menurun ketika cahaya kuat, dan meningkat ketika kondisi
gelap.
Gaya
penulisan pedomanmu sudah sangat cocok, tetapi tidak sama persis, jadi teori di
bawah boleh kamu pakai langsung.
Hubungan
Cahaya – Resistansi – Tegangan
- Intensitas cahaya (↑)
→ R_LDR (↓) → Tegangan pembagi menurun
- Intensitas cahaya (↓)
→ R_LDR (↑) → Tegangan pembagi naik
Tegangan
ini masuk ke op-amp non-inverting sebagai sinyal input.
2.
Konfigurasi Op-Amp Non-Inverting
Prinsip
Kerja Konfigurasi:
- Input dari LDR masuk ke
pin non-inverting (+).
- Output op-amp memberikan
penguatan positif tanpa membalik fasa.
- Ketika tegangan input >
tegangan referensi, output naik ke V_sat+.
- Ketika tegangan input < tegangan
referensi, output turun ke V_sat−.
Konfigurasi
ini dipilih karena:
- sinyal LDR kecil → diperkuat,
- responsnya cepat,
- cocok untuk deteksi cahaya
otomatis.
3.
Penerapan pada Sistem Garasi Otomatis
Sensor LDR
digunakan untuk menghidupkan lampu garasi saat gelap.
Alurnya:
- Intensitas cahaya menurun →
R_LDR naik → V_LDR meningkat.
- V_LDR > V_ref → op-amp
output HIGH.
- Output HIGH mengaktifkan
transistor → lampu menyala.
- Saat terang → V_LDR < V_ref
→ output LOW → lampu mati.
4.
Grafik Karakteristik LDR
Grafik
hubungan Intensitas Cahaya vs Resistansi
Grafik hubungan Intensitas Cahaya vs Tegangan Output
- Sumbu X = Lux (cahaya)
- Sumbu Y = Resistansi (Ω)
- Kurva miring ke bawah →
semakin terang resistansi makin kecil.
- Kurva meningkat → tegangan
naik saat gelap, turun saat terang.
5.
Tabel Spesifikasi Umum LDR
B.
Sensor IR Digital dengan Konfigurasi Op-Amp Buffer (Voltage Follower)
1. Prinsip
Kerja Sensor IR Digital
Sensor
infrared (IR) bekerja dengan memanfaatkan radiasi cahaya inframerah yang berada
di luar spektrum cahaya tampak. Pada modul sensor IR tipe pemantulan
(reflective sensor), terdapat dua bagian utama:
- Pemancar (IR LED) yang
memancarkan cahaya inframerah.
- Penerima (fotodioda atau
fototransistor) yang mendeteksi pantulan cahaya dari objek di
depannya.
Jika di
depan sensor terdapat objek (misalnya bodi mobil), maka sebagian cahaya IR akan
dipantulkan kembali ke arah penerima. Intensitas pantulan ini mengubah arus
yang mengalir pada fotodioda/fototransistor sehingga tegangan output sensor
ikut berubah.
Secara
umum:
- Tidak ada objek →
pantulan sangat kecil → arus fotodioda kecil → tegangan output berada pada
kondisi tertentu (misalnya LOW).
- Ada objek → pantulan
besar → arus fotodioda naik → tegangan output berubah ke kondisi lain
(misalnya HIGH).
2.
Fungsi Op-Amp sebagai Buffer / Voltage Follower
Konfigurasi buffer
(voltage follower) digunakan karena:
- tidak memberi penguatan (gain
= 1),
- tetapi memberi impedansi
input tinggi dan impedansi output rendah,
- sehingga sinyal digital dari
sensor IR menjadi stabil dan tidak terpengaruh beban.
Persamaan:
Fungsi
dalam sistem:
- mencegah noise,
- memastikan sinyal IR
diteruskan ke transistor/relay dengan kuat,
- membuat pembacaan logika IR
lebih stabil.
3. Alur
Kerja pada Sistem Garasi
- Mobil mendekat → IR
memantulkan cahaya → sensor output HIGH.
- Sinyal masuk ke op-amp buffer
→ sinyal Stabil HIGH.
- Output buffer → transistor →
relay → motor DC bergerak menutup pintu.
- Ketika mobil keluar → IR LOW →
pintu dapat membuka kembali (jika diatur demikian).
4.
Grafik Output Digital Sensor IR
C. Transistor D882
Transistor adalah sebuah komponen di dalam elektronika yang diciptakan
dari bahan-bahan semikonduktor dan memiliki tiga buah kaki. Masing-masing kaki
disebut sebagai basis, kolektor, dan emitor.
- Emitor (E) memiliki fungsi
untuk menghasilkan elektron atau muatan negatif.
- Kolektor (C) berperan sebagai
saluran bagi muatan negatif untuk keluar dari dalam transistor.
- Basis (B) berguna untuk
mengatur arah gerak muatan negatif yang keluar dari transistor melalui
kolektor.
Transistor
Bipolar terdiri dari dua jenis yaitu Transistor NPN dan Transistor PNP.
- Transistor NPN adalah
transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan
positif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan
yang lebih besar dari Kolektor ke Emitor.
- Transistor PNP adalah
transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan
negatif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan
yang lebih besar dari Emitor ke Kolektor.
Rumus:
Konfigurasi
transistor bipolar :
Cara
mengukur transistor bipolar
Karakteristik
input
Transistor
adalah komponen aktif yang menggunakan aliran electron sebagai prinsip kerjanya
didalam bahan. Sebuah transistor memiliki tiga daerah doped yaitu daerah
emitter, daerah basis dan daerah disebut kolektor. Transistor ada dua jenis
yaitu NPN dan PNP. Transistor memiliki dua sambungan: satu antara emitter dan
basis, dan yang lain antara kolektor dan basis. Karena itu, sebuah transistor
seperti dua buah dioda yang saling bertolak belakang yaitu dioda emitter-basis,
atau disingkat dengan emitter dioda dan dioda kolektor-basis, atau disingkat
dengan dioda kolektor.
Bagian
emitter-basis dari transistor merupakan dioda, maka apabila dioda emitter-basis
dibias maju maka kita mengharapkan akan melihat grafik arus terhadap tegangan
dioda biasa. Saat tegangan dioda emitter-basis lebih kecil dari potensial
barriernya, maka arus basis (Ib) akan kecil. Ketika tegangan dioda melebihi
potensial barriernya, arus basis (Ib) akan naik secara cepat.
Karakteristik
output
Sebuah
transistor memiliki empat daerah operasi yang berbeda yaitu daerah aktif,
daerah saturasi, daerah cutoff, dan daerah breakdown. Jika transistor digunakan
sebagai penguat, transistor bekerja pada daerah aktif. Jika transistor
digunakan pada rangkaian digital, transistor biasanya beroperasi pada daerah
saturasi dan cutoff. Daerah breakdown biasanya dihindari karena resiko
transistor menjadi hancur terlalu besar.
Gelombang
I/O Transistor
D.
Relay & Motor DC sebagai Aktuator Pintu Garasi
1.
Pengertian Relay
Relay
adalah saklar elektromagnetik yang dapat dikendalikan secara listrik. Relay
memungkinkan rangkaian tegangan rendah (misalnya output op-amp atau transistor)
untuk mengontrol rangkaian tegangan lebih tinggi (misalnya motor DC).
Relay
bekerja menggunakan kumparan (coil) yang akan menghasilkan medan magnet ketika
dialiri arus. Medan magnet ini menarik tuas logam (armature) sehingga mengubah
posisi kontak saklar (NO/NC).
2.
Struktur Dasar Relay
Secara
umum relay memiliki elemen-elemen berikut:
- Coil (kumparan) →
menghasilkan medan magnet.
- Armature (tuas) →
tertarik saat coil aktif.
- Kontak NO (Normally
Open) → terbuka saat relay OFF, menutup saat ON.
- Kontak NC (Normally
Closed) → tertutup saat relay OFF, terbuka saat ON.
- Common (COM) → titik
peralihan kontak NO/NC.
3. Prinsip
Kerja Relay pada Sistem Pintu Garasi
Pada
rangkaian garasi otomatis, relay digunakan untuk:
- Menghidupkan dan mematikan
motor DC sesuai perintah sensor.
- Mengubah arah putaran motor
(jika menggunakan sistem DPDT atau relay ganda).
- Mengisolasi rangkaian kendali
tegangan rendah dengan rangkaian aktuator tegangan tinggi.
Alur
kerjanya:
- Output op-amp (buffer /
non-inverting) → mengaktifkan transistor.
- Transistor mengalirkan arus ke
kumparan relay → relay ON.
- Kontak NO menutup → motor DC
terhubung ke supply → pintu bergerak.
Ketika
tidak ada sinyal sensor:
- Transistor OFF
- Relay OFF
- Motor berhenti
4.
Pengertian Motor DC
Motor DC
adalah aktuator elektromekanis yang mengubah energi listrik menjadi energi
gerak putar. Motor DC digunakan dalam sistem garasi karena:
- torsi cukup besar,
- mudah dikendalikan arah
putaran,
- bekerja stabil pada tegangan
rendah (5–12 V),
- dapat bergerak maju (open) dan
mundur (close).
5. Prinsip
Kerja Motor DC
Motor DC
bekerja berdasarkan gaya Lorentz, yaitu gaya yang timbul saat arus listrik
mengalir dalam medan magnet.
Tahapan
kerjanya:
- Arus mengalir ke kumparan
rotor.
- Medan magnet terbentuk dan
berinteraksi dengan magnet stator.
- Interaksi ini menghasilkan
torsi → rotor berputar.
- Komutator menjaga arah arus
agar terus menghasilkan torsi.
6.
Mengubah Arah Putaran Motor (Open / Close)
Motor DC
dapat dibalik arah putarannya dengan membalik polaritas tegangan:
- Polaritas A → B
(positif) → motor berputar arah buka
- Polaritas B → A
(positif) → motor berputar arah tutup
Ada dua
cara umum dalam rangkaian garasi otomatis:
1.
Menggunakan relay DPDT
- COM → motor
- NO/NC → supply dan ground
- Ketika relay berubah posisi,
polaritas motor otomatis berbalik
2.
Menggunakan dua relay SPDT
- Relay 1 menentukan arah
putaran
- Relay 2 menentukan ON/OFF
7.
Integrasi Relay + Motor DC dalam Sistem Garasi Otomatis
Diagram
alur:
- Sensor IR mendeteksi
mobil → output HIGH
- Op-amp
buffer menstabilkan sinyal
- Transistor D882 aktif
(saklar on)
- Transistor memberikan arus
ke coil relay
- Relay ON → kontak NO menutup
- Motor DC terhubung ke 12V
→ pintu bergerak
- Ketika mencapai
batas, limit switch memutus motor
- Motor berhenti
Komentar
Posting Komentar